Air merupakan
sumber kehidupan yang tidak tergantikan. Namun, di tengah peran krusialnya,
banyak perairan di Indonesia terancam pencemaran. Contoh mencolok adalah Sungai
Citarum, yang pernah dinobatkan sebagai salah satu sungai tekotor di dunia.
Kondisi ini mengingatkan kita bahwa pelestarian lingkungan memerlukan kerjasama
dari seluruh pihak.
Menurut Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pencemaran air di Indonesia utamanya disebabkan
oleh limbah rumah tangga dan industri. Sampah domestik, buangan pabrik, serta
kurangnya kesadaran masyarakat menjadi pemicu utama penurunan kualitas air.
Dampaknya tidak hanya merusak ekosistem, tapi juga mengancam kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat yang bergantung padanya.
Menghadapi situasi
yang semakin parah, pemerintah meluncurkan Program Citarum Harum pada 2018.
Program ini menggandeng berbagai elemen, seperti pemerintah pusat dan daerah,
TNI, akademisi, kelompok lingkungan, serta pelaku usaha swasta. Kegiatan
utamanya mencakup pembersihan sampah, penataan kawasan pinggir sungai,
pengawasan limbah industri, dan kampanye edukasi masyarakat.
Secara bertahap,
hasilnya mulai kelihatan. Air sungai yang dulu kotor mulai jernih, bantaran
sungai lebih rapi, dan kesadaran publik tentang pelestarian lingkungan pun
meningkat. Kisah ini membuktikan bahwa kolaborasi solid dapat menciptakan
perubahan nyata untuk keberlanjutan lingkungan.
Pelajaran dari
Sungai Citarum mengajarkan bahwa perubahan sering dimulai dari komitmen
kolektif, bukan langkah raksasa. Dari sungai tercemar menjadi ikon harapan,
Citarum menunjukkan bagaimana kerjasama mengubah krisis menjadi peluang.
Pada intinya,
menjaga sumber daya air bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab
bersama. Jika Citarum bisa bangkit berkat kolaborasi, apakah kita sudah turut
menjaga kebersihan perairan di lingkungan sekitar?
Penulis : Ainuni Putri Wanda, Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Posting Komentar