Tujuan ke-3 dalam United
Nations Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu Good Health and
Well-Being (kehidupan sehat dan sejahtera), menegaskan bahwa setiap orang
berhak hidup sehat dan terbebas dari penyakit yang dapat dicegah. Namun, di
balik komitmen global tersebut, masih ada tantangan mendasar yang sering luput
dari perhatian: kualitas air yang kita gunakan setiap hari.
Bayangkan jika air yang kita gunakan untuk minum, mandi, hingga memasak justru menjadi ancaman bagi kesehatan. Ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan kenyataan yang masih terjadi di berbagai wilayah. Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa setiap tahunnya sekitar 1 juta orang meninggal akibat diare yang disebabkan oleh air minum yang tidak aman, sanitasi yang buruk, dan kebersihan yang tidak memadai. Bahkan, sekitar 395.000 anak di bawah usia 5 tahun termasuk dalam angka tersebut, padahal sebagian besar kasus ini sebenarnya dapat dicegah.
Menurut World Health Organization, jutaan
kematian setiap tahun masih berkaitan dengan air yang tidak aman dan sanitasi
yang buruk
Permasalahan ini menunjukkan bahwa pencapaian SDG 3 tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan, terutama air sebagai kebutuhan dasar manusia. Sumber daya perairan seperti sungai, danau, hingga wilayah pesisir memiliki peran vital dalam menunjang kehidupan. Namun, ketika air tercemar oleh limbah domestik, industri, atau sampah, dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga secara langsung mengancam kesehatan manusia. Air yang tidak bersih dapat menjadi media penyebaran berbagai penyakit, mulai dari diare, kolera, hingga infeksi kulit.
Bahkan, menurut data World Health Organization, diare merupakan salah satu penyakit paling mematikan yang berkaitan langsung dengan air dan makanan yang terkontaminasi. Selain itu, pada tahun 2021, lebih dari 251 juta orang di dunia membutuhkan pengobatan pencegahan schistosomiasis, yaitu penyakit akibat parasit yang ditularkan melalui air yang terinfeksi. Di Indonesia, diare masih menjadi masalah kesehatan serius dengan angka kematian yang tinggi, bahkan kerap terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), terutama di daerah dengan akses air bersih dan sanitasi yang terbatas. Masalah ini bukan karena kekurangan air, melainkan buruknya pengelolaan kualitasnya.
Data menunjukkan bahwa
kematian akibat diare di Indonesia mencapai sekitar 63.966 jiwa atau 3,78% dari
total kematian, dengan tingkat kematian sebesar 32,99 per 100.000 penduduk,
menempatkan Indonesia pada peringkat ke-47 di dunia. Angka ini memperlihatkan
bahwa persoalan kualitas air masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan
masyarakat.
Fakta Mengejutkan 70% Sumber Air Minum di Indonesia Tercemar
Masalah ini bukan
disebabkan oleh kekurangan air, melainkan buruknya pengelolaan kualitasnya.
Tantangan utama bukan hanya menyediakan air, tetapi memastikan air tersebut
aman dan layak digunakan. Karena itu, manajemen sumber daya perairan menjadi
kunci melalui pengawasan kualitas, pengendalian pencemaran, dan perlindungan
ekosistem.
Menurut World Health
Organization, menjaga kualitas air melalui parameter seperti kejernihan, kadar
oksigen terlarut, dan pH sangat penting untuk menekan risiko penyebaran
penyakit berbasis air. amun, upaya ini tidak cukup tanpa peran masyarakat.
Kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang
sampah ke sungai, serta menggunakan air secara bijak menjadi faktor penting
dalam menjaga kualitas air tetap aman.
Selain berdampak pada
kesehatan, kualitas air yang baik juga memberikan manfaat lain yang tidak kalah
penting. Perairan yang bersih dapat meningkatkan potensi wisata, mendukung
kegiatan ekonomi masyarakat, serta menjaga keberlanjutan ekosistem. Dengan kata
lain, menjaga kualitas air tidak hanya melindungi kesehatan, tetapi juga
berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan ekonomi.
Oleh karena itu, upaya
menjaga kualitas air perlu dilakukan secara terpadu, melibatkan pemerintah,
masyarakat, dan berbagai pihak terkait. Edukasi mengenai pentingnya sanitasi,
pengelolaan limbah yang baik, serta pengawasan terhadap pencemaran harus terus
ditingkatkan agar kesadaran kolektif dapat terbentuk.
Pada akhirnya, mewujudkan
kehidupan yang sehat tidak bisa dilepaskan dari bagaimana kita memperlakukan
air. Tujuan ke-3 SDGs mengingatkan bahwa kesehatan berawal dari hal yang paling
mendasar. Selama air masih menjadi sumber kehidupan, maka menjaganya tetap
bersih bukan lagi pilihan, melainkan tanggung jawab bersama.
Penulis: Ifdatul Rahman, Mahasiswa Ilmu Perikanan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.



Posting Komentar