KabarPrestasi.Com – Komunitas Green Coast dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa tunjukan kepeduliannya terhadap ekosistem mangrove dengan melakukan kajian awal eco-engineering: strategi untuk meningkatkan pertumbuhan mangrove jenis ceriops tagal, di Pulau Panjang, Serang, Banten pada Jum’at, 21 Maret 2025.

Kegiatan ini melibatkan sejumlah siswa SDN 1 Pulau Panjang untuk memupuk sejak dini wawasan (mindset) akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem pesisir. Melalui program ini, para siswa diajak untuk mengenal lebih dekat dengan "sang penjaga pantai", khususnya jenis mangrove Ceriops Tagal atau yang akrab dikenal warga lokal sebagai Pohon Tengar. Tidak hanya sampai di situ, para siswa juga ikut mengamati spesimen mangrove yang dibawa ke kelas untuk dipelajari bersama.

Materi utama yang dipelajari siswa:

  1. Identifikasi Visual: Siswa belajar mengenali ciri khas Ceriops tagal, seperti daunnya yang berwarna hijau cerah berbentuk bulat telur terbalik dan buahnya yang berbentuk silindris meruncing (seperti pena).
  2. Fungsi Ekologis: Menjelaskan mengenai bagaimana akar dari Ceriops tagal membantu menstabilkan sedimen lumpur dan menjadi tempat berlindung bagi bibit ikan dan udang.
  3. Manfaat Ekonomi: Memberikan pemahaman bahwa hutan mangrove yang sehat secara tidak langsung mendukung mata pencaharian orang tua mereka yang mayoritas berinteraksi dengan laut.
  4. Biota Mangrove: Memberi pemahaman mengenai biota yang hidup di kawasan mangrove. 

Di kawasan ini, berbagai makhluk juga hidup saling berinteraksi dan membentuk suatu jaringan kehidupan yang kompleks. Mangrove tidak hanya menjadi tempat tumbuh bagi vegetasi khas seperti Rhizophora, Avicennia, dan Sonneratia, tetapi juga menjadi rumah bagi beragam fauna yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang unik, seperti kadar garam tinggi, tanah berlumpur, dan pasang surut air laut.

Di antara akar-akar mangrove yang menjulang dan saling bertaut, berbagai jenis ikan memanfaatkan kawasan ini sebagai tempat pemijahan, pembesaran (nursery ground), dan perlindungan dari predator. Selain itu, terdapat pula biota khas seperti ikan gelodok (mudskipper) yang mampu hidup di darat dan air, serta menunjukkan adaptasi unik dengan menggunakan siripnya untuk berjalan di atas lumpur. Tidak hanya ikan, ekosistem mangrove juga dihuni oleh berbagai jenis krustasea seperti kepiting bakau yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan membantu proses dekomposisi bahan organik, seperti daun mangrove yang gugur.

Nah, mengapa si harus Ceriops Tagal? Dari sekian banyak jenis mangrove, Ceriops Tagal dipilih karena keunikannya. Mangrove ini memiliki daya tahan yang luar biasa dan peran ekologis yang sangat vital bagi wilayah Pulau Panjang. Oleh karena itu, upaya pelestarian mangrove menjadi sangat penting untuk menjaga kelangsungan keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem pesisir. Tanaman mangrove jenis Ceriops Tagal dapat tumbuh hingga kurang lebih 25 m dengan batang yang terlihat menggembung dan kokoh, serta akar tunjang berukuran kecil, yang berperan untuk menjaga kestabilannya di tanah berlumpur dan sering tergenang air. Daunnya berwarna hijau mengilap dengan ukuran sekitar 2-4 x 1-10 cm, serta dilengkapi daun penumpu kecil berukuran 1,5 - 2,5 cm yang sangat mudah gugur dan meninggalkan bekas seperti cincin pada batang. Bunganya tumbuh berkelompok dalam tangkai pendek, yang terdiri dari 5 – 10 kuntum. Kulit buahnya yang sedikit menggelembung membuat ciri khas tersendiri, sehingga secara keseluruhan morfologi tanaman ini menunjukan berbagai bentuk adaptasi yang memungkinkan untuk bertahan hidup di lingkungan pesisir yang dinamis.

Program edukasi di lingkungan pesisir ini merupakan salah satu program yang dijalankan oleh Komunitas Green Coast yang bergerak pada koservasi pesisir, khususnya pada penanaman mangrove untuk mencegah abrasi dan banjir.

“Kegiatan ini menjadi bentuk pengalaman bagi kami terhadap kepedulian terhadap ekosistem mangrove, kegiatan ini memiliki peran sangat penting dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin keempat yakni tentang pendidikan yang berkualitas. Melalui kegiatan ini, kami berharap agar siswa/i SDN 1 Pulau Panjang bisa memiliki kesadaran konservasi sejak dini, memahami hubungan timbal balik antara ekologi dan ekonomi, pengembangan karakter berbasis lingkungan, dan siswa/i diharapkan menjadi "mata dan telinga" di lingkungan rumah & sekolah mereka untuk tidak merusak tanaman yang ada”, ujar salah satu anggota Komunitas Green Coast.

Penulis: Rida Febriyanti

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama