KabarPrestasi.com - Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga tentang kesiapan sumber daya manusia dari berbagai bidang keilmuan. 

Perspektif Indonesia Emas 2045 tersebut diangkat Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (HMPS BSA) UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten melalui Seminar Diskusi Publik bertema "Indonesia Emas 2045: Antara Cita-Cita, Tantangan, dan Realita."

Kegiatan Seminar Diskusi Publik yang bertajuk Indonesia Emas 2045: Antara Cita-Cita, Tantangan, dan Realita" berlangsung di Aula Gedung Rektorat Lantai 3 Kampus 1 UIN Banten. Diskusi tersebut menghadirkan Presiden Mahasiswa UIN SMH Banten atau Ketua DEMA U, Muhammad Syahid sebagai pemantik dan Kepala Bidang Eksternal HMPS BSA, Nazril Ilham Amin sebagai moderator. 

Seminar Diskusi Publik HMPS BSA UIN Banten tersebut mengambil isu Indonesia Emas 2045, forum ini menjadi ruang bagi mahasiswa BSA untuk melihat pembangunan Indonesia tidak hanya dari perspektif ekonomi dan politik, tetapi juga dari posisi keilmuan yang mereka pelajari. 

Bahasa dan Sastra Arab memiliki keterkaitan dengan komunikasi lintas budaya, penerjemahan, kajian dunia Arab, hingga peluang pengembangan hubungan Indonesia dengan masyarakat internasional.

Bagi mahasiswa Program Studi (Prodi) BSA, kemampuan bahasa Arab tidak berhenti pada penguasaan bahasa sebagai mata kuliah. 

Kompetensi tersebut dapat menjadi modal untuk membangun komunikasi lintas negara, memahami keragaman budaya, serta membuka ruang kontribusi di berbagai bidang yang membutuhkan kemampuan bahasa dan pemahaman terhadap dunia Arab.

Hal tersebut menjadi relevan saat negara Indonesia diarahkan menuju negara maju pada 2045, dengan tagline Indonesia Emas 2045. Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tidak hanya ditentukan oleh kemampuan di bidang sains dan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan berkomunikasi, memahami perbedaan budaya, dan membangun jejaring dengan masyarakat global.

Karena hal tersebut, mahasiswa BSA melalui HMPS memiliki ruang kontribusi yang tidak kalah penting dalam perjalanan menuju Indonesia Emas. 

Keilmuan bahasa dan sastra dapat dikembangkan menjadi kompetensi yang lebih luas, mulai dari penerjemahan, pendidikan, diplomasi, komunikasi internasional, hingga sektor kreatif dan profesional.

Diskusi tersebut sekaligus menjadi momentum bagi mahasiswa BSA untuk mempertanyakan kembali posisi keilmuan mereka di tengah perubahan zaman. 

Jika Indonesia membutuhkan SDM unggul menuju 2045, lalu kontribusi apa yang dapat diberikan mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab?

Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari upaya melihat Indonesia Emas bukan sekadar sebagai cita-cita nasional, melainkan sebagai agenda yang membutuhkan keterlibatan generasi muda dari berbagai disiplin ilmu, termasuk mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab. ***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama