KabarPrestasi.com - Aliansi BEM Serang Raya menggelar webinar bertema “Ketahanan Informasi melalui Literasi Digital dan Wawasan Kebangsaan” pada Kamis, 24 September 2026, pukul 19.30 WIB. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.

Webinar tersebut menghadirkan Emar Muamar, alumni Lemhannas RI, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Emar menekankan bahwa ketahanan informasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga dengan kecakapan masyarakat dalam memilah, memahami, dan menyikapi informasi secara kritis.

Menurut Emar, perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan dalam memperoleh dan menyebarkan informasi. Namun, di sisi lain, ruang digital juga dapat menjadi tempat berkembangnya disinformasi, fitnah, ujaran kebencian, propaganda hingga cognitive warfare yang dapat memengaruhi persepsi masyarakat dan memicu polarisasi.

“Di era digital, perang tidak selalu dilakukan dengan kekuatan fisik. Persepsi, opini, dan cara berpikir masyarakat juga dapat menjadi ruang yang dipengaruhi. Karena itu, mahasiswa harus memiliki ketahanan informasi agar tidak mudah terbawa oleh informasi yang belum terverifikasi,” ujar Emar Muamar.

Ia menjelaskan bahwa literasi digital harus dimaknai secara lebih luas. Masyarakat bukan hanya dituntut mampu menggunakan perangkat dan platform digital, tetapi juga harus mampu menggunakannya secara cakap, aman, etis, dan berbudaya.

Emar juga mengingatkan peserta agar tidak terburu-buru membagikan informasi yang diterima melalui media sosial. Setidaknya terdapat lima langkah sederhana yang dapat dilakukan sebelum menyebarkan sebuah informasi, yakni cek sumber, cek konteks, cek bukti, bandingkan informasi, dan cek emosi.

“Lima langkah ini sederhana, tetapi sangat penting. Cek sumbernya, pahami konteksnya, lihat bukti yang tersedia, bandingkan dengan informasi dari sumber lain, kemudian cek emosi kita sendiri. Jangan sampai kemarahan atau kebencian membuat kita menyebarkan sesuatu yang ternyata tidak benar,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Umum Aliansi BEM Serang Raya, M Fajri Ramadhan, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong mahasiswa agar semakin kritis dalam menghadapi perkembangan ruang digital.

“Mahasiswa hari ini bukan hanya dituntut aktif menyampaikan pendapat, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan. Jangan sampai kita menjadi bagian dari penyebaran hoaks, fitnah, kebencian maupun provokasi yang justru merusak persatuan,” kata Fajri.

Fajri menambahkan, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang dapat memberikan pengaruh positif di tengah masyarakat. Karena itu, kemampuan berpikir kritis dan kesadaran kebangsaan perlu berjalan beriringan dengan aktivitas mahasiswa di ruang digital.

“Kami ingin mahasiswa mampu menjadi pengguna media sosial yang kritis, cerdas dan bertanggung jawab. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk bertukar gagasan, memperluas pengetahuan dan memperkuat persatuan, bukan menjadi tempat untuk saling mengadu domba,” tambahnya.

Dalam webinar tersebut, peserta juga diajak memahami pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan digital. Kebebasan berekspresi di ruang publik tetap perlu diiringi dengan etika, tanggung jawab, serta kesadaran untuk menghormati keberagaman.

Melalui kegiatan ini, Aliansi BEM Serang Raya mendorong lahirnya mahasiswa yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan informasi, wawasan kebangsaan, dan kemampuan untuk menjadi bagian dari solusi di tengah tantangan komunikasi digital.

“Kritis bukan berarti mudah percaya atau mudah menolak. Kritis berarti mau memeriksa, memahami, dan mencari kebenaran sebelum mengambil sikap. Dari ruang digital, mahasiswa bisa ikut menjaga persatuan bangsa,” pungkas Emar Muamar. ***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama