KabarPrestasi.com - Aliansi Organisasi Mahasiswa Primordial Kedaerahan di Provinsi Banten yang terdiri atas Keluarga Mahasiswa Lebak (KUMALA), Himpunan Mahasiswa Serang (HAMAS), Ikatan Mahasiswa Cilegon (IMC), Keluarga Mahasiswa Pandeglang (KUMANDANG), Keluarga Mahasiswa Cibaliung (KUMAUNG), dan Gerakan Mahasiswa Serang Utara (GAMSUT) sukses melaksanakan Diskusi Kebangsaan di Gedung Pramuka Kota Serang.

Diskusi Kebangsaan Aliansi Organisasi Mahasiswa Primordial Banten tersebut mengangkat tema "Pentingkah Reformasi Jilid II atau Hanya Kepentingan yang Ditunggangi?"

Forum Diskusi Kebangsaan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan bagi mahasiswa dalam menyikapi dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang berkembang di Indonesia. 

Selain itu, diskusi tersebut dipimpin sekaligus dipantik oleh Dede Setiawan yang mengajak peserta melihat berbagai persoalan nasional secara objektif dan mengedepankan pendekatan akademik dalam merumuskan sikap mahasiswa.

Dalam paparannya, Dede menjelaskan bahwa belakangan ini berkembang berbagai ajakan untuk turun ke jalan dengan membawa tuntutan Reformasi Jilid II sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah yang dinilai oleh sebagian pihak belum mampu menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. 

Menurutnya, mahasiswa memiliki hak konstitusional untuk menyampaikan aspirasi, namun setiap gerakan harus dibangun berdasarkan kajian yang matang serta mempertimbangkan dampak yang lebih luas terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Mahasiswa harus tetap kritis terhadap setiap kebijakan pemerintah. Namun menurut saya, mengganti rezim bukan otomatis menjadi jawaban atas persoalan yang kita hadapi. Yang lebih penting adalah mendorong perubahan kebijakan atau policy change terhadap program-program yang masih memiliki kelemahan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," ujar Dede Setiawan.

Kemudian, ia menilai bahwa pergantian pemerintahan tidak selalu menjamin perubahan kondisi apabila persoalan mendasar dalam tata kelola kebijakan tidak ikut diperbaiki. Oleh karena itu, menurutnya, energi mahasiswa akan lebih bermanfaat apabila diarahkan untuk memberikan kritik yang disertai rekomendasi dan solusi yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah.

Sebagai contoh, Dede menyinggung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, tujuan program tersebut merupakan upaya yang baik dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Tetapi ia menilai bahwa pelaksanaannya masih memerlukan penyempurnaan agar lebih tepat sasaran, efektif, dan efisien dalam penggunaan anggaran negara.

"Program MBG secara tujuan memiliki niat yang baik untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Yang perlu didorong adalah evaluasi pelaksanaannya agar distribusi manfaat lebih tepat sasaran, pengawasan lebih kuat, dan penggunaan anggaran menjadi semakin efektif. Di sinilah peran mahasiswa untuk memberikan masukan yang berbasis kajian," katanya.

Selama diskusi berlangsung, para peserta dari enam organisasi mahasiswa tersebut turut menyampaikan pandangan mengenai pentingnya menjaga fungsi mahasiswa sebagai kekuatan moral (moral force) sekaligus kontrol sosial (social control) dalam kehidupan demokrasi. 

Berbagai peserta menekankan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari demokrasi, namun hendaknya dilakukan secara bertanggung jawab dan disertai solusi yang konstruktif.

Forum diskusi juga membahas tantangan bangsa di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tekanan, sehingga diperlukan stabilitas sosial yang kondusif agar proses pembangunan dapat berjalan dengan baik. Para peserta berpandangan bahwa penyampaian aspirasi tetap harus menghormati hukum, menjaga ketertiban umum, serta menghindari tindakan yang berpotensi memicu konflik.

Dalam pernyataan sikap yang berkembang selama diskusi, Aliansi Organisasi Mahasiswa Primordial Kedaerahan di Banten menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan fungsi kontrol sosial melalui jalur akademik, kajian kebijakan, diskusi publik, dan penyampaian rekomendasi kepada para pemangku kepentingan.

"Mahasiswa tidak boleh kehilangan daya kritis. Namun kritik yang paling bernilai adalah kritik yang mampu menghadirkan solusi. Kita ingin menjadi social control yang menjaga jalannya demokrasi melalui gagasan, kajian, dan rekomendasi kebijakan, sehingga setiap masukan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat luas," tegas Dede.

Diskusi ditutup dengan kesepahaman bersama bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menjaga ruang demokrasi tetap sehat melalui dialog, kajian ilmiah, dan penyampaian aspirasi yang konstruktif. Aliansi Organisasi Mahasiswa Primordial Kedaerahan berharap peran mahasiswa tidak berhenti pada penyampaian kritik semata, tetapi juga mampu menjadi bagian dari lahirnya solusi terhadap berbagai persoalan bangsa melalui pemikiran yang objektif, berbasis data, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. ***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama